my blog

Kamis, 27 Januari 2011

gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang gizi seimbang pada kehamilan di wilayah Puskesmas Kembaran I Kabupaten Banyumas Tahun 2010?”


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Gizi merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas SDM. Gangguan gizi pada awal kehidupan akan mempengaruhi kualitas kehidupan berikutnya. Pemenuhan gizi tidak dimulai pada saat janin sudah lahir, tetapi dimulai dari saat dalam kandungan atau selama kehamilan. Oleh karena itu ibu hamil diharapkan dapat memenuhi kebutuhan gizi selama masa kehamilan (Karyadi, 2001).
Pemenuhan asupan gizi bagi ibu hamil dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi asupan gizi ibu hamil antara lain faktor pengetahuan. Masih banyak ibu hamil dengan tingkat pengetahuan rendah tentang gizi seimbang selama masa kehamilan, bahkan masih banyak ibu hamil yang mempunyai pendapat yang salah tentang jumlah asupan gizi yang harus diperoleh, misalnya pendapat yang menyatakan bahwa ibu hamil tidak boleh terlalu banyak mengkonsumsi makanan karena dapat membuat janin terlalu besar sehingga menyulitkan proses persalinan (Christianingrum, 2005).
1
Kebutuhan zat gizi selama hamil lebih besar dibandingkan dengan pada sebelum hamil, terutama untuk zat gizi tertentu. Pada setiap tahap kehamilan, seorang ibu hamil membutuhkan gizi yang seimbang, yaitu makanan dengan kandungan zat-zat gizi yang berbeda dan disesuaikan dengan kondisi tubuh dan perkembangan janin (Karyadi, 2001).
Trimester pertama kehamilan merupakan masa penyesuaian ibu hamil terhadap kehamilannya. Karena pertumbuhan janin masih lambat, maka penambahan kebutuhan zat-zat gizinya pun masih relatif kecil, bahkan boleh dikatakan pada periode ini kebutuhan gizi calon ibu masih sama dengan wanita dewasa biasa. Memasuki trimester kedua, janin mulai tumbuh pesat dibandingkan dengan sebelumnya. Untuk itu, peningkatan kualitas gizi sangat penting karena pada tahap ini ibu mulai menyimpan lemak dan zat gizi lain untuk cadangan sebagai bahan pembentuk ASI pada saat menyusui nanti. Sedangkan pada tahap terakhir atau trimester ketiga, dibutuhkan vitamin dan mineral untuk mendukung pesatnya pertumbuhan janin dan pembentukan otak. Kebutuhan energi janin didapat dari cadangan energi yang disimpan ibu selama tahap sebelumnya (Lubis, 2003).
Sampai saat ini masih banyak ibu hamil yang mengalami masalah gizi khususnya gizi kurang seperti KEK dan anemia gizi. Jumlah penderita KEK di Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Menurut data Susenas tahun 1999, jumlah ibu hamil yang mengalami risiko KEK adalah 27,6 % (Depkes, 2000). Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2002 menunjukkan bahwa 41 % ibu hamil di Indonesia menderita KEK (Lubis, 2003). Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas tahun 2009 memperlihatkan jumlah ibu hamil yang mengalami KEK sebanyak 4.467 ibu hamil atau 14,5 % dari 30.701 ibu hamil.
Wilayah kerja Puskesmas Kembaran I Kabupaten Banyumas pada bulan April 2010 terdapat 311 ibu hamil dengan jumlah ibu hamil yang mengalami KEK sebanyak 137 ibu hamil atau 44,0 %. Angka tersebut jauh di atas rata-rata kejadian KEK Kabupaten Banyumas. Sedangkan pada Tahun 2009, angka KEK di wilayah Puskesmas Kembaran I mencapai 27,73 % dari seluruh ibu hamil dan menempati peringkat ketiga tertinggi se-Kabupaten Banyumas.
Angka anemia pada kehamilan di Indonesia masih cukup tinggi. Kejadian anemia pada kehamilan berkisar antara 20 % - 89 % dari seluruh kehamilan (Sukarman, 2008). Di Kabupaten Banyumas, selama tahun 2009 dari 35.462 ibu hamil yang diperiksa, terdapat 8.985 orang (25,3 %) menderita anemia, yaitu dengan nilai Hb kurang dari 10 gr% (Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, 2009). Data Puskesmas Kembaran I menunjukkan pada Bulan April 2010 jumlah ibu hamil yang diperiksa kadar Hb sebanyak 415 ibu hamil dan yang mempunyai kadar Hb < 10gr% sebanyak 137 ibu hamil (33,0%).
Studi pendahuluan yang penulis lakukan dengan metode wawancara terhadap 5 ibu hamil yang melakukan ANC di Puskesmas Kembaran I memperlihatkan bahwa terdapat 2 ibu hamil yang tidak mengetahui tentang kebutuhan gizi selama kehamilan, sedangkan 3 ibu lainnya mengatakan mengetahui kebutuhan terhadap gizi selama kehamilan. Dari wawancara tersebut juga diketahui bahwa responden yang tidak mengetahui tentang gizi seimbang selama kehamilan tersebut mengatakan selama hamil justru mengurangi asupan makannya karena mengalami mual. Sedangkan tiga ibu lainnya selama hamil sangat memperhatikan asupan gizinya.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang gizi seimbang pada kehamilan di wilayah Puskesmas Kembaran I.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis dapat menentukan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Bagaimanakah pengetahuan ibu hamil tentang gizi seimbang pada kehamilan di wilayah Puskesmas Kembaran I Kabupaten Banyumas Tahun 2010?”

Tujuan Penelitian
    1. Tujuan Umum
Mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang gizi seimbang pada kehamilan di wilayah Puskesmas Kembaran I Tahun 2010.
    1. Tujuan Khusus
  1. Mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang pengertian gizi seimbang pada kehamilan di wilayah Puskesmas Kembaran I Tahun 2010.
  2. Mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang kebutuhan gizi ibu hamil di wilayah Puskesmas Kembaran I Tahun 2010.
  3. Mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang angka kecukupan gizi ibu hamil di wilayah Puskesmas Kembaran I Tahun 2010.
  4. Mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil di wilayah Puskesmas Kembaran I Tahun 2010.

Manfaat Penelitian
    1. Manfaat Teoritis
Memberikan tambahan referensi tentang gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang gizi seimbang pada kehamilan.
    1. Manfaat Praktis
    1. Bagi peneliti
Penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengalaman dalam melakukan penelitian tentang tingkat pengetahuan ibu hamil tentang gizi seimbang pada kehamilan
    1. Bagi tenaga kesehatan / bidan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam memberikan penyuluhan kesehatan kepada ibu hamil tentang gizi seimbang pada kehamilan.
e. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan di perpustakaan dan diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan penelitian selanjutnya.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini rencananya akan dilakukan di wilayah Puskesmas Kembaran I Kabupaten Banyumas dengan waktu penelitian pada Bulan Mei –Juli 2010.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

    1. Tinjauan Pustaka
      1. Pengetahuan
      1. Pengertian
Pengetahuan adalah kesan didalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca indranya yang berbeda sekali dengan kepercayaan (be1iefs), takhayul (superstitions) dan penerangan-penerangan yang keliru (misinformation) (Soekanto, 2003).
Pengetahuan merupakan faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku atau tindakan seseorang. Secara konseptual, pengetahuan merupakan persepsi seseorang yang dihasilkan setelah seseorang melakukan penginderaan, baik mendengar, melihat merasakan atau mengalami sendiri suatu obyek tertentu. Selanjutnya setiap orang bisa memiliki persepsi yang berbeda terhadap suatu obyek yang sama (Notoatmodjo, 2003).
      1. Jenis-Jenis Pengetahuan
Menurut Irmayanti (2007), pengetahuan terdiri dari dua jenis, yaitu :
    1. Pengetahuan empiris
7
Pengetahuan empiris adalah pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman inderawi. Pengetahuan empiris bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan dan observasi yang dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulangkali.
    1. Pengetahuan rasionalisme
Pengetahuan rasionalisme adalah pengetahuan yang didapatkan melalui akal budi. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori dan tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika atau ilmu eksata.
      1. Sumber Pengetahuan
Menurut World Health Organization atau WHO (1992, dalam Notoatmodjo, 2003), pengetahuan seseorang dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dan pihak lain, seperti orang tua, petugas, teman, buku dan media komunikasi lainnya. Selain itu, Notoatmodjo (2003) juga mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang memiliki korelasi positif dengan pengetahuan adalah tingkat pendidikan. Korelasi positif dimaksudkan dengan semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka pengetahuannya juga akan semakin baik.




      1. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003), adalah :
  1. Tingkat pendidikan
Pendidikan adalah upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku positif yang meningkat. Pendidikan adalah suatu kegiatan atau usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi pribadinya yang berupa ketrampilan. Sifat pendidikan sangat penting yaitu merupakan nilai yang memberikan pertimbangan dan arahan dalam kehidupan masyarakat, pelaksanaan pendidikan dipengaruhi dan didukung oleh lingkungan tempat pendidikan tersebut berlangsung dan merupakan satu faktor yang sangat berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dimana karakter moral dan intelektual ditempat untuk bersaing di era globalisasi. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh pada ibu hamil, dengan tingkat pendidikan yang tinggi ibu hamil akan mengetahui tentang asupan gizi yang baik untuk ibu selama kehamilan (Windagdo,2003).
  1. Informasi
Seseorang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Informasi ini dapat diperoleh dari beberapa sumber antara lain TV, radio, koran, kader, bidan, puskesmas dan majalah.
  1. Budaya
Tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhan yang meliputi sikap dan kebudayaan
  1. Pengalaman
Pengalaman adalah sesuatu yang pernah dialami seseorang tentang sesuatu. Individu dapat memaknai suatu kejadian untuk meningkatkan pengetahuannya.
  1. Umur
Umur lama hidup seseorang dihitung sejak kelahirannya. Umur terkait dengan kedewasaan berpikir. Individu dengan usia dewasa cenderung mempunyai tingkat pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan individu dengan usia yang jauh lebih muda (Notoatmodjo, 2003).
  1. Pekerjaan
Pekerjaan adalah pencaharian yang dijadikan pokok penghidupan atau sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah. Pekerjaan berhubungan erat dengan interaksi dengan orang lain. Jenis pekerjaa yang menuntut seseorang berinteraksi secara intens dengan orang mempunyai kemungkinan adanya tranfers on konowledge. Sebagaimana dikemukakan oleh Notoatmodjo (2003) yang mengatakan bahwa sumber informasi dapat berasal dari rekan kerja.
      1. Tingkatan Pengetahuan
Adapun tingkat pengetahuan dalam domain kognitis menurut Notoatmodjo (2003) adalah tahu, memahami, menerapkan, menganalisis, menggabungkan dan mengevaluasi.
      1. Tahu (know)
Diartikan sebagai mengingat suatu yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk ke dalam tingkat pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
      1. Memahami (comprehention)
Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut dengan benar.
      1. Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang sudah dipelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya. Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.


      1. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih saling keterkaitan antara yang satu dengan yang lain.
      1. Sintesis (synthesis)
Sintesis ini menunjuk kepada kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
      1. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi/obyek.
      1. Pengukuran pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas (Notoamodjo, 2003).
Menurut Arikunto (2002) bahwa pengukuran pengetahuan dapat dikategorikan menjadi empat bagian, yaitu :
        1. Tingkat pengetahuan baik : 76% - 100%
        2. Tingkat pengetahuan cukup baik : 56% - 75%
        3. Tingkat pengetahuan kurang baik : 40% - 55%
        4. Tingkat pengetahuan tidak baik : < 40%
      1. Gizi Seimbang pada Kehamilan
  1. Pengertian
Gizi pada ibu hamil adalah kebutuhan makanan bagi ibu hamil yang harus dipenuhi pada saat ibu mangalami kehamilan. Gizi yang dibutuhkan oleh ibu hamil berbeda dengan asupan gizi ibu yang tidak hamil. Kebutuhan gizi ibu hamil tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan gizi ibu hamil saja, melainkan juga untuk pertumbuhan dan kesehatan janin yang dikandungnya, oleh karena itu kebutuhan gizi ibu hamil lebih banyak dibandingkan ibu yang tidak hamil (Karyadi, 2001).
Menurut Haryanto (2000) kegunaan gizi pada ibu hamil, antara lain adalah :
        1. Untuk pertumbuhan janin yang ada dalam kandungan
        2. Untuk mempertahankan kesehatan dan kekuatan badan ibu
        3. Untuk mempersiapkan supaya luka-luka setelah persalinan cepat sembuh dalam masa nifas
        4. Untuk cadangan gizi pada masa laktasi
  1. Kebutuhan Gizi Ibu Hamil
Pada setiap tahap kehamilan, seorang ibu hamil membutuhkan makanan dengan kandungan zat-zat gizi yang berbeda dan disesuaikan dengan kondisi tubuh dan perkembangan janin (Karyadi, 2001).
Berikut ini adalah kebutuhan gizi ibu hamil berdasarkan usia kehamilan :
  1. Trimester I
Trimester pertama kehamilan merupakan masa penyesuaian seorang perempuan terhadap kehamilannya. Karena pada tiga bulan pertama ini pertumbuhan janin masih lambat, penambahan kebutuhan zat-zat gizinya pun masih relatif kecil. Bahkan boleh dikatakan pada periode ini kebutuhan gizi calon ibu masih sama dengan wanita dewasa biasa. Hanya saja, seluruh zat gizi yang dikonsumsinya harus memenuhi kebutuhan janin. Kekurangan gizi tertentu atau terkonsumsinya zat adiktif berbahaya bisa menyebabkan kegagalan pembentukan organ yang sempurna. (Haryanto, 2000).
Pada trimester I ibu hamil memasuki masa anabolisme yaitu masa untuk menyimpan zat gizi sebanyak-banyaknya dari makanan yang disantap setiap hari untuk cadangan persediaan pada trimester berikutnya. Dalam keadaaan ini biasanya ibu hamil mengalami mual, muntah-muntah, dan tidak berselera makan, sehingga asupan makanan perlu diatur. Makanan sebaiknya diberikan dalam bentuk kering, porsi kecil, dan frekuensi pemberian yang sering. (Haryanto, 2000).

Menurut Karyadi (2001) dan Haryanto (2000), zat gizi yang dibutuhkan ibu hamil trimester I, antara lain :
        1. Kalori
Kalori dibutuhkan untuk perubahan dalam tubuh ibu hamil, meliputi pembentukan sel-sel baru, pengaliran makanan dari pembuluh darah ibu ke pembuluh darah janin melalui plasenta dan pembentukan enzim serta hormon yang mengatur pertumbuhan janin. Selama trimester pertama, wanita hamil perlu tambahan bobot badan sebanyak 0,5 kg setiap minggu. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi rata-rata yang dianjurkan (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI, 1998), ibu hamil perlu tambahan 285 Kkal setiap hari atau sama dengan 2.485 Kkal per hari. Kekurangan energi dalam asupan makanan yang dikonsumsi menyebabkan tidak tercapainya penambahan berat badan ideal dari ibu hamil yaitu sekitar 11 - 14 kg.
        1. Protein
Untuk membangun sel-sel baru janin, termasuk sel darah, kulit, rambut, kuku, dan jaringan otot dibutuhkan protein. Protein juga diperlukan plasenta untuk membawa makanan ke janin dan juga pengaturan hormon sang ibu dan janin. Tambahan protein yang dibutuhkan setiap hari adalah 60 g atau 12 g lebih banyak ketimbang wanita dewasa tak hamil. Protein dapat diperoleh dari bahan makanan seperti daging, keju, ikan, telur, kacang-kacangan, tahu, tempe dan oncom.
        1. Vitamin dan mineral
Diperlukan vitamin dan mineral yang merupakan zat gizi penting selama hamil. Vitamin A dalam jumlah optimal diperlukan untuk pertumbuhan janin. Tidak kalah penting vitamin B1 dan B2 serta niasin yang diperlukan dalam proses metabolisme tubuh. Sedangkan vitamin B6 dan B12 berguna untuk mengatur penggunaan protein oleh tubuh. Vitamin C penting untuk membantu penyerapan zat besi selama hamil untuk mencegah anemia.
Untuk pembentukan tulang serta persendian janin diperlukan vitamin D yang membantu penyerapan kalsium. Kalsium penting untuk pertumbuhan tulang dan gigi janin. Zat kapur ini banyak terdapat pada susu dan olahannya serta kacang-kacangan.
Sementara itu vitamin E diperlukan untuk pembentukan sel-sel darah merah serta melindungi lemak dari kerusakan. Asam folat dan seng penting untuk pertumbuhan susunan saraf pusat sehingga konsumsi makanan yang banyak mengandung asam folat dapat mengurangi risiko kelainan susunan saraf pusat dan otak janin. Makanan yang kaya akan asam folat misalnya jeruk, pisang, brokoli, wortel, dan tomat.
Pasokan zat besi juga tidak kalah penting karena pada masa hamil volume darah ibu akan meningkat 30%. Di samping itu, plasenta harus mengalirkan cukup zat besi untuk perkembangan janin.
        1. Serat
Konsumsi serat banyak terdapat pada buah dan sayuran, berguna untuk membantu kerja sistem ekskresi sehingga mudah buang air besar.
        1. Air
Kekurangan air (dehidrasi) harus segera ditanggulangi, karena dalam masa kehamilan muda ada kalanya terjadi muntah-muntah sehingga banyak mengeluarkan cairan tubuh.
  1. Trimester II
Memasuki trimester kedua, saat kehamilan berusia 4 - 6 bulan, janin mulai tumbuh pesat dibandingkan dengan sebelumnya. Kecepatan pertumbuhan itu mencapai 10 gram per hari. Tubuh ibu juga mengalami perubahan dan adaptasi, misalnya pembesaran payudara dan mulai berfungsinya rahim serta plasenta. Untuk itu, peningkatan kualitas gizi sangat penting karena pada tahap ini ibu mulai menyimpan lemak dan zat gizi lainnya untuk cadangan sebagai bahan pembentuk ASI (air susu ibu) saat menyusui nanti.

Menurut Karyadi (2001) dan Haryanto (2000), zat gizi yang dibutuhkan ibu hamil trimester II, antara lain :
          1. Kalori
Tubuh membutuhkan tambahan 285 kalori setiap hari dibandingkan dengan sebelum hamil. Konsumsi makanan ini setidaknya menghasilkan pertambahan bobot badan sekitar 8 - 15 kg sampai akhir trimester ketiga. Sejak trimester kedua ini, diusahakan untuk menambah bobot ½ kg setiap minggu. Di akhir bulan kehamilan, konsumsi karbohidrat (50 - 60% dari total kalori) diperlukan dalam takaran yang cukup untuk persiapan tenaga ibu dalam masa persalinan.
          1. Protein
Protein penting untuk pertumbuhan janin dan plasenta, juga untuk memenuhi kebutuhan suplai darah merah. Kebutuhan protein didapat dari bahan makanan hewani seperti daging, ikan, telur, dan nabati seperti kacang-kacangan, tahu, dan tempe.
          1. Vitamin dan mineral
Pada trimester ketiga, tubuh membutuhkan vitamin B6 dalam jumlah banyak dibandingkan sebelum hamil. Vitamin ini dibutuhkan untuk membentuk protein dari asam amino, darah merah, saraf otak, dan otot-otot tubuh. Bila protein tercukupi, maka kebutuhan vitamin B6 akan tercukupi pula. Makanan yang banyak mengandung vitamin B6 ini antara lain ikan. Jangan lupa mengonsumsi substansi omega-3 yang banyak terkandung dalam daging ikan tuna dan salmon. Omega-3 juga berperan pada perkembangan otak dan retina janin.
Zinc dibutuhkan bagi sistem imunologi (kekebalan) tubuh. Konsumsi zinc juga dapat menghindari lahirnya janin prematur dan berperan dalam perkembangan otak janin, terutama pada trimester terakhir. Diduga, kekurangan seng menyebabkan bibir sumbing. Makanan yang kaya seng antara lain daging sapi dan ikan.
Kalsium diperlukan pada trimester pertama hingga trimester ketiga karena merupakan zat gizi penting selama kehamilan. Kebutuhan zat besi meningkat terutama pada awal trimester kedua kehamilan. Faktanya, hampir 70% ibu hamil di Indonesia menderita anemia. Sebab itu suplementasi pil besi diupayakan untuk diberikan selama kehamilan guna memenuhi kebutuhan zat besi itu.
  1. Trimester III
Sedangkan pada tahap terakhir atau trimester ketiga, ketika usia kehamilan mencapai 7 - 9 bulan, dibutuhkan vitamin dan mineral untuk mendukung pesatnya pertumbuhan janin dan pembentukan otak. Kebutuhan energi janin didapat dari cadangan energi yang disimpan ibu selama tahap sebelumnya.
Menurut Karyadi (2001) dan Haryanto (2000), zat gizi yang dibutuhkan ibu hamil trimester III tidak berbeda dengan ibu hamil trimester II.
  1. Angka Kecukupan Gizi Ibu Hamil
Menurut Karyadi (2001) angka kecukupan gizi yang dianjurkan untuk ibu hamil tercantum dalam tabel 2.1 berikut ini :
Tabel 2.1 Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Ibu Hamil


Zat Gizi
Kebutuhan wanita dewasa
Kebutuhan wanita hamil
Sumber makanan
Energi (kalori)
2500
+ 300
Padi-padian, jagung, umbi-umbian, mi, roti.
Protein (gram)
40
+ 10
Daging, ikan, telur, kacang-kacangan, tahu,tempe.
Kalsium (mg)
0,5
+ 0,6
Susu, ikan teri, kacang-kacangan, sayuran hijau.
Zat besi (mg)
28
+ 2
Daging, hati, sayuran hijau.
Vit. A (SI)
3500
+ 500
Hati, kuning telur, sayur dan buah berwarna hijau dan kuning kemerahan.
Vit. B1 (mg)
0,8
+ 0,2
Biji-bijian, padi- padian, kacang-kacangan, daging.
Vit. B2 (mg)
1,3
+ 0,2
Hati, telur, sayur, kacang-kacangan.
Vit. B6 (mg)
12,4
+ 2
Hati, daging, ikan, biji-bijian, kacang-kacangan.
Vit. C (mg)
20
+ 20
Buah dan sayur.
Sumber : Haryanto (2000)





Tabel 2.2
Contoh Penyusunan Menu Gizi Seimbang Selama Kehamilan

Pagi
Pukul 10.00 dan 16.00
Siang
Malam
Nasi 1 porsi (2 gelas/250 gram)
Makanan selingan:
          • 1 buah pisang, atau
          • 1 mangkuk bubur kacang hijau, atau
          • 1 gelas biskuit susu
Nasi 1 porsi (2 gelas/250 gram)
Nasi 1 porsi (2 gelas/250 gram)
Lauk hewani/nabati 1 porsi (1 potong)
    1. Lauk hewani 1 porsi (1 potong)
    2. Lauk nabati 1 porsi (1 potong)
Lauk hewani 2 porsi (2 potong)
Lauk nabati 1 porsi (1 potong)
Sayur 1 porsi
Sayur 1 porsi
Buah 1-2 porsi
Sayur 1 porsi
Buah 1-2 porsi
Sumber : Paath (2005)


  1. Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Ibu Hamil
Menurut Astrini (2001), banyak faktor yang mempengaruhi status gizi pada ibu hamil, antara lain :
    1. Faktor budaya
Dalam kelompok budaya tertentu, ada mitos yang berisi pantangan atau larangan bagi ibu hamil untuk mengkonsumsi beberapa jenis makanan yang seharusnya justru harus dikonsumsi ibu hamil, misalnya ibu tidak boleh makan ikan laut, karena dapat menyebabkan air ketuban berbau amis. Pendapat tersebut sangat tidak benar, bahkan ibu hamil sangat dianjurkan banyak mengkonsumsi ikan karena mengandung protein yang tinggi (Astrini, 2001).
Adanya mitos-mitos yang salah tersebut sangat mempengaurhi status gizi ibu hamil, karena ibu hamil berusaha mengikuti mitos-mitos yang salah seputar kehamilan sesuai dengan budaya yang dianutnya (Alifianti, 2006).
    1. Sosial ekonomi
Kondisi sosial ekonomi dalam masyarakat merupakan indikator dalam penilaian apakah dalam satu keluarga itu mampu atau tidak dalam memenuhi kebutuhan. Tingkat sosial ekonomi rendah diidentikkan dengan kemiskinan (Notoatmodjo 2010). Ibu hamil dengan tingkat sosial ekonomi rendah cenderung mengabaikan pemenuhan asupan gizi seimbang dalam kehamilan, sehingga seringkali mengalami masalah gizi dalam kehamilan, misalnya anemia dan KEK (Astrini, 2001).
    1. pengetahuan ibu hamil
Salah satu faktor yang mempengaruhi asupan gizi ibu hamil antara lain faktor pengetahuan. Masih banyak ibu hamil dengan tingkat pengetahuan rendah tentang gizi seimbang selama masa kehamilan, bahkan masih banyak ibu hamil yang mempunyai pendapat yang salah tentang jumlah asupan gizi yang harus diperoleh (Christianingrum, 2005).
    1. penyakit pada ibu hamil
Penyakit kronis pada ibu hamil akan meningkatkan resiko terjadinya gangguan status gizi ibu dalam kehamilan, misalnya maag atau gastric ulcer yang menyebabkan ibu mengalami gangguan pola makan yang pada akhirnya akan mempengaruhi status gizi ibu selama kehamilan (Astrini, 2001).

    1. Keragka Teori














Bagan 2.1
Kerangka Teori
Sumber : Notoatmodjo (2003), Karyadi (2001) dan Astrini (2001)







    1. Kerangka Konsep













Bagan 2.2

Kerangka Konsep

Keterangan :

: Area yang diteliti

: Area yang tidak diteliti

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

  1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriptif kuantitatif adalah suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan umum untuk membuat gambaran antara deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2005). Tujuan digunakannya rancangan deskriptif dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang gizi seimbang pada kehamilan.

  1. Populasi dan Sampel
    1. Populasi
Populasi adalah sekumpulan data yang mengidentifikasikan suatu fenomena. Populasi tidak terbatas pada masalah manusia, tetapi juga dapat hewan, tumbuhan dan sebagainya (Mario, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di wilayah Puskesmas Kembaran I Kabupaten Banyumas Bulan Januari sampai dengan April 2010, sejumlah 311 ibu hamil.
    1. Sampel
25
Sampel penelitian adalah sekumpulan data yang diambil atau diseleksi dari suatu populasi (Mario, 2006). Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri-ciri atau sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Notoatmodjo, 2005).
Sampel dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria inklusi yang ditentukan, yaitu :
  1. Ibu hamil yang bertempat tinggal di wilayah Puskesmas Kembaran I Kabupaten Banyumas
  2. Bisa membaca dan menulis.
  3. Bersedia untuk menjadi responden penelitian.
Sedangkan kriteris eksklusi ditentukan sebagai berikut :
      1. Ibu hamil yang mengalami penyulit kehamilan, misalnya hiperemesis gravidarum
      2. Ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit menahun
Besar sampel yang diambil ditentukan berdasarkan rumus untuk populasi kecil atau kurang dari 10.000 (Notoatmodjo, 2005), yaitu :
N
n =
1 + N(d)²
Keterangan :
n = jumlah sampel
N = jumlah populasi
d = tingkat kesalahan pengambilan sampel yang ditentukan sebesar 10 %

311
n =
1 + 311 (10%)2

311
n =
1 + 311 (0,01)


311
n =
4,11

n = 75,6

Berdasarkan perhitungan tersebut, maka jumlah sampel ditentukan sebanyak 76 orang. Pemilihan sampel berdasarkan pendekatan simple random sampling atau pemilihan sampel dilakukan dengan cara acak sampai didapatkan jumlah sampel sebanyak 76 orang.

  1. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data
    1. Jenis Data
Data dalam penelitian ini terdiri dari primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan mengenakan alat ukur atau alat pengambilan data langsung pada subyek sebagai sumber informasi yang dicari (Badriah, 2006). Data primer diperoleh dengan cara peneliti membagi kuesioner terhadap responden yang telah memenuhi kriteria inklusi, sedangkan data sekunder adalah bahan kajian yang digambarkan oleh dan bukan yang ikut mengalami atau yang hadir pada waktu kejadian (Arikunto, 2002). Adapun data sekunder yang diambil pada penelitian ini didapatkan dari data registrasi ibu hamil di puskesmas Kembaran 1 Kabupaten Banyumas.
    1. Teknik Pengumpulan Data
Sebelum mengisi kuesisoner, responden diberi penjelasan tentang tujuan, manfaat penelitian ini dan kesediaan calon responden untuk menjadi responden. Seluruh responden dalam penelitian ini telah menyatakan kesediaannya menjadi responden yang ditunjukkan dengan menandatangani surat persetujuan menjadi responden.
Setelah responden menyatakan setuju, yang ditunjukkan dengan pengisian informed concent, kemudian responden diberi pengarahan tentang cara pengisian kuesioner. Responden diminta untuk mengisi kuesioner sendiri tanpa diwakilkan atau meminta pendapat orang lain. Selama proses pengisian kuesioner tidak ada responden yang meminta pendapat dari orang lain.

  1. Instrumen Pengumpulan Data
    1. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner terdiri dari 2 bagian, bagian pertama adalah kuesioner untuk mengetahui identitas responden, yang meliputi nama, umur, pekerjaan dan tingkat pendidikan.
Kuesioner kedua adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang gizi seimbang pada kehamilan. Jumlah item kuesioner kedua adalah 35 item dengan teknik pertanyaan tertutup dengan pilihan jawaban Benar-Salah.
    1. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas telah dilakukan terhadap 20 ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas kalibago kecamatan Sokaraja. Pemilihan lokasi uji validitas dan reliabilitas karena Puskesmas kalibago kecamatan Sokaraja mempunyai karakteristik yang sama dengan lokasi penelitian, karena secara geografis, letak kedua wilayah berdekatan.
      1. Validitas
Validitas dari alat ukur diketahui dengan teknik korelasi product moment yang diolah dengan komputerisasi, dengan rumus sebagai berikut :
r =
Keterangan :
N = Jumlah responden
X = Skor pertanyaan
Y = Skor total
XY = Skor pertanyaan dikali skor total
r = Taraf signifikan
Notoatmodjo (2005) menyatakan bahwa untuk menentukan validitas dengan nilai r hasil, keputusan diambil dengan dasar:

        1. Jika r hasil positif dan r > r tabel, maka valid
        2. Jika r hasil negatif dan r < r tabel, maka tidak valid
Hasil uji validitas pertama menunjukkan terdapat 6 item yang tidak valid karena mempunyai nilai r hitung < 0,444, yaitu item nomor 2 (r hitung = 0,428), nomor 4 (r hitung = 0,091), nomor 5 (r hitung = 0,334), nomor 12 (r hitung = 0,412), nomor 20 (r hitung = 0,341) dan nomor 26 (r hitung = 0,334). Setelah diketahui ada item kuesioner yang tidak valid, maka dilakukan uji validitas ulang. Hasil uji validitas kedua memperlihatkan bahwa seluruh item kuesioner mempunyai nilai r hitung > 0,444, sehingga dapat dinyatakan bahwa kuesioner adalah valid untuk digunakan sebagai alat pengumpul data.
      1. Reliabilitas
Reliabilitas menunjukan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya dan tetap konsisten walaupun pengukuran dilakukan dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama. Penghitungan reliabilitas hanya dapat dilakukan pada pertanyaan yang sudah diuji validitasnya.
Untuk mengetahui reliabilitas dari instrumen menggunakan Alpha Cronbach yang diolah dengan sistem komputerisasi, rumusnya sebagai berikut :
r =

Keterangan :
k = Reliabilitas instrumen
α2b = Jumlah varian
α21 = Varian total
Notoatmodjo (2005) mengatakan bahwa untuk menentukan reliabilitas dengan nilai r alpha, keputusan diambil dengan dasar :
    1. Jika r alpha > r tabel, maka reliabel
    2. Jika r alpha < r tabel, maka tidak reliabel
Hasil uji reliabilitas, baik uji reliabilitas pertama maupun kedua memperlihatkan bahwa kuesioner dalam penelitian ini adalah reliabel. Uji reliabilitas pertama menunjukkan nilai r hitung = 0,989 dan uji reliabilitas kedua menunjukkan r hitung = 0,964.

  1. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
    1. Variabel Penelitian
Variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian dalam suatu penelitian (Arikunto, 2002). Penelitian ini terdiri dari variabel tungal, yaitu pengetahuan ibu hamil tentang gizi seimbang pada kehamilan.
    1. Definisi Operasional dan Jenis Data
Definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu variabel dengan cara memberikan arti, menspesifikasikan kegiatan atau memberikan suatu operasional untuk menjelaskan suatu variabel.
Tabel 3.1
Variabel, Definisi operasional, Parameter dan Skala

No
Variabel
Definisi Operasional
Parameter
Jenis
1

Pengetahuan ibu hamil tentag gizi seimbang dalam kehamilan

Pemahaman atau hasil penginderaan ibu hamil tentang gizi seimbang selama kehamilan
Hasil skor diprosentasekan dengan pembobotan dibagi menjadi 4 kategori, yaitu :
    • 76 – 100% : Baik
    • 56 – 75% : Cukup Baik
    • 40-55% : Kurang Baik
    • < 40 % : Tidak Baik

Ordinal

2
Sub Variabel :
Pengertian

Pemahaman ibu tentang maksud dari gizi seimbang selama kehamilan

Hasil skor diprosentasekan dengan pembobotan dibagi menjadi 4 kategori, yaitu :
    • 76 – 100% : Baik
    • 56 – 75% : Cukup Baik
    • 40-55% : Kurang Baik
    • < 40 % : Tidak Baik

Ordinal
3
Kebutuhan ibu hamil

Pemahaman ibu tentang kebutuhan gizi yang harus dipenuhi oleh ibu selama kehamilan
Hasil skor diprosentasekan dengan pembobotan dibagi menjadi 4 kategori, yaitu :
    • 76 – 100% : Baik
    • 56 – 75% : Cukup Baik
    • 40-55% : Kurang Baik
    • < 40 % : Tidak Baik
Ordinal
4
Angka kecukupan gizi ibu hamil
Pemahaman ibu tentang jumlah gizi yang harus dikonsumsi selama kehamilan
Hasil skor diprosentasekan dengan pembobotan dibagi menjadi 4 kategori, yaitu :
    • 76 – 100% : Baik
    • 56 – 75% : Cukup Baik
    • 40-55% : Kurang Baik
    • < 40 % : Tidak Baik
Ordinal
5
Faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil
Pemahaman ibu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi gizi seimbang selama kehamilan
Hasil skor diprosentasekan dengan pembobotan dibagi menjadi 4 kategori, yaitu :
    • 76 – 100% : Baik
    • 56 – 75% : Cukup Baik
    • 40-55% : Kurang Baik
    • < 40 % : Tidak Baik
Ordinal


  1. Lokasi dan Waktu Pengumpulan Data
  1. Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kembaran I Kabupaten Banyumas.
  1. Waktu Penelitian
Waktu penelitian adalah pada bulan Juli 2010.

  1. Pengolahan Data
  1. Teknik Penyajian Data
Data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel dan tekstural atau narasi.
  1. Analisis Data
Kegiatan mengolah data dalam penelitian meliputi :
      1. Editing
Editing adalah memeriksa daftar yang telah diserahkan oleh para pengumpul data. Tujuan dari editing adalah untuk mengurangi kesalahan atau kekurangan yang ada di dalam daftar pertanyaan yang sudah diselesaikan. Hasil kegiatan editing memperlihatkan tidak ada jawaban responden yang tidak lengkap, sehingga seluruh jawaban responden dapat dijadikan data penelitian.
      1. Coding
Coding adalah mengklarifikasi jawaban-jawaban dari para responden kedalam kategori-kategori. Biasanya klarifikasi dilakukan dengan cara memberi kode berbentuk angka pada masing-masing jawaban, misalnya pengetahuan tidak baik diberi kode 1, kurang baik diberi kode 2, cukup baik diberi kode 3 dan pengetahuan baik diberi kode 4.
      1. Scoring
Langkah berikutnya setelah coding adalah melakukan scoring. Scoring dilakukan untuk mengetahui total skor dari jawaban responden atas kuesioner tentang pengetahuan. Scoring didasarkan pada jumlah jawaban yang benar atas kuesioner tentang gizi seimbang pada kehamilan.
      1. Tabulating
Pekerjaan tabulasi adalah pekerjaan membuat tabel. Jawaban-jawaban yang sudah diberi kode kategori jawaban kemudian dimasukkan dalam tabel.
Langkah terakhir dalam penelitian ini adalah melakukan analisis data. Analisis data pada penelitian dilakukan secara bertahap dan dilakukan melalui proses komputerisasi. Penelitian ini hanya menggunakan analisis univariat. Analisis univariat adalah analisis yang dilakukan hanya pada satu pengukuran (variabel) pada jumlah sampel tertentu (Santoso, 2005). Analisis univariat dilakukan untuk menghasilkan distribusi dan persentasi dari variabel penelitian.


  1. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain :
          1. Lokasi penelitian ini hanya dilakukan hanya di satu Rumah Sakit saja, sehingga hasil penelitian ini tidak bisa menggambarkan kondisi tingkat pengetahuan ibu hamil di wilayah Kabupaten Banyumas.
          2. Desain penelitian pada penelitian ini hanya menggunakan desain deskriptif sehingga hanya menghasilkan distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu tanpa mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan ibu.


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

          1. Hasil Penelitian
Penelitian ini telah penulis laksanakan pada Bulan Juli 2010 terhadap 76 ibu hamil di wilayah Puskesmas Kembaran I Kabupaten Banyumas. Selama proses penelitian, penulis tidak menemui hambatan berarti sebaliknya banyak faktor pendukung yang penulis dapatkan selama penelitian, antara lain : proses perijinan yang relatif cepat dan bantuan dari bidan desa selama pengumpulan data.
Setelah data terkumpul, maka penulis melakukan pengolahan data dan hasil analisa data tersebut akan disajikan sebagai hasil penelitian yang disesuaikan dengan tujuan khusus dan tujuan umum penelitian sebagai berikut :
  1. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pengertian gizi seimbang pada kehamilan

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pengertian Gizi Seimbang pada Kehamilan

No
Pengetahuan
Frekuensi
(n)
Persentase
(%)
1
2
3
4
Baik
Cukup
Kurang
Tidak baik
46
18
5
7
60,5
23,7
6,6
9,2
Jumlah
76
100.0
Sumber : Data Primer diolah Tahun 2010
36
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang pengertian gizi seimbang pada kehamilan dengan persentase tertinggi adalah responden dengan tingkat pengetahuan baik (60,5%) dan jumlah responden dengan persentase terendah adalah responden dengan tingkat pengetahuan kurang baik (6,6%).
  1. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang kebutuhan gizi ibu hamil
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Kebutuhan Gizi Seimbang pada Kehamilan

No
Pengetahuan
Frekuensi
(n)
Persentase
(%)
1
2
3
4
Baik
Cukup
Kurang
Tidak baik
17
43
11
5
22,3
56,6
14,5
6,6
Jumlah
76
100.0
Sumber : Data Primer diolah Tahun 2010
Data dalam Tabel 4.2 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang kebutuhan gizi ibu hamil dengan persentase tertinggi adalah responden dengan tingkat pengetahuan cukup (56,6%) dan jumlah responden dengan persentase terendah adalah responden dengan tingkat pengetahuan tidak baik (6,6%).
  1. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang angka kecukupan gizi ibu hamil

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Angka Kecukupan Gizi Ibu Hamil

No
Pengetahuan
Frekuensi
(n)
Persentase
(%)
1
2
3
4
Baik
Cukup
Kurang
Tidak baik
12
42
18
4
15,8
55,3
23,7
5,2
Jumlah
76
100.0
Sumber : Data Primer diolah Tahun 2010
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang angka kecukupan gizi ibu hamil dengan persentase tertinggi adalah responden dengan tingkat pengetahuan cukup (55,3%) dan jumlah responden dengan persentase terendah adalah responden dengan tingkat pengetahuan tidak baik (5,2%).
  1. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Ibu Hamil

No
Pengetahuan
Frekuensi
(n)
Persentase
(%)
1
2
3
4
Baik
Cukup
Kurang
Tidak baik
22
0
31
23
28,9
0,0
40,8
30,3
Jumlah
76
100.0
Sumber : Data Primer diolah Tahun 2010
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil dengan persentase tertinggi adalah responden dengan tingkat pengetahuan kurang (40,8%) dan tidak ada responden yang mempunyai tingkat pengetahuan cukup (0,0%).





  1. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang gizi seimbang pada kehamilan

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Gizi Seimbang pada Kehamilan

No
Pengetahuan
Frekuensi
(n)
Persentase
(%)
1
2
3
4
Baik
Cukup
Kurang
Tidak baik
12
42
18
4
15,8
55,3
23,7
5,2
Jumlah
76
100.0
Sumber : Data Primer diolah Tahun 2010
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang gizi seimbang pada kehamilan dengan persentase tertinggi adalah responden dengan tingkat pengetahuan cukup (55,3%) dan jumlah responden dengan persentase terendah adalah responden dengan tingkat pengetahuan tidak baik (5,2%).

          1. Pembahasan
Pembahasan dilakukan untuk melakukan telaah pustaka untuk mengetahui adanya kesesuaian atau kesenjangan antara hasil penelitian dengan teori yang ada. Apabila ditemukan kesenjangan, maka akan disusun sebuah argumen ilmiah tentang fenomena yang menjadi hasil penelitian.
            1. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pengertian gizi seimbang pada kehamilan

Hasil analisis univariat memperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang pengertian gizi seimbang pada kehamilan dengan persentase tertinggi adalah responden dengan tingkat pengetahuan baik (60,5%) dan jumlah responden dengan persentase terendah adalah responden dengan tingkat pengetahuan kurang baik (6,6%).
Gizi merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas SDM. Gangguan gizi pada awal kehidupan akan mempengaruhi kualitas kehidupan berikutnya. Pemenuhan gizi tidak dimulai pada saat janin sudah lahir, tetapi dimulai dari saat dalam kandungan atau selama kehamilan. Oleh karena itu ibu hamil diharapkan dapat memenuhi kebutuhan gizi selama masa kehamilan (Karyadi, 2001).
Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pengertian gizi seimbang pada kehamilan dapat dikategorikan cukup hal ini dapat disebabkan karena ibu mempunyai sumber informasi yang baik tentang pengertian gizi seimbang pada kehamilan, misalnya ibu melakukan konseling dengan bidan pada saat melakukan ANC. Konseling yang dilakukan bidan tentang pengertian gizi seimbang pada kehamilan akan meningkatkan pengetahuan ibu. Sebagaimana dikemukakan oleh Notoatmodjo (2003) yang menyatakan bahwa seseorang dengan sumber informasi yang baik akan memiliki tingkat pengetahuan yang baik.
            1. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang kebutuhan gizi ibu hamil
Tingkat pengetahuan responden tentang kebutuhan gizi ibu hamil dengan persentase tertinggi adalah responden dengan tingkat pengetahuan cukup (56,6%) dan jumlah responden dengan persentase terendah adalah responden dengan tingkat pengetahuan tidak baik (6,6%).
Kebutuhan zat gizi selama hamil lebih besar dibandingkan dengan pada sebelum hamil, terutama untuk zat gizi tertentu. Pada setiap tahap kehamilan, seorang ibu hamil membutuhkan gizi yang seimbang, yaitu makanan dengan kandungan zat-zat gizi yang berbeda dan disesuaikan dengan kondisi tubuh dan perkembangan janin (Karyadi, 2001).
Trimester pertama kehamilan merupakan masa penyesuaian ibu hamil terhadap kehamilannya. Karena pertumbuhan janin masih lambat, maka penambahan kebutuhan zat-zat gizinya pun masih relatif kecil, bahkan boleh dikatakan pada periode ini kebutuhan gizi calon ibu masih sama dengan wanita dewasa biasa. Memasuki trimester kedua, janin mulai tumbuh pesat dibandingkan dengan sebelumnya. Untuk itu, peningkatan kualitas gizi sangat penting karena pada tahap ini ibu mulai menyimpan lemak dan zat gizi lain untuk cadangan sebagai bahan pembentuk ASI pada saat menyusui nanti. Sedangkan pada tahap terakhir atau trimester ketiga, dibutuhkan vitamin dan mineral untuk mendukung pesatnya pertumbuhan janin dan pembentukan otak. Kebutuhan energi janin didapat dari cadangan energi yang disimpan ibu selama tahap sebelumnya (Lubis, 2003).
Hasil penelitian ini dapat disebabkan karena sebagian besar responden dalam penelitian ini memiliki tingkat pendidikan menengah. Sebagaimana dikemukakan oleh Notoatmodjo (2003) yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan. Pendidikan adalah upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku positif yang meningkat. Pendidikan adalah suatu kegiatan atau usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi pribadinya yang berupa ketrampilan. Sifat pendidikan sangat penting yaitu merupakan nilai yang memberikan pertimbangan dan arahan dalam kehidupan masyarakat, pelaksanaan pendidikan dipengaruhi dan didukung oleh lingkungan tempat pendidikan tersebut berlangsung dan merupakan satu faktor yang sangat berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dimana karakter moral dan intelektual ditempat untuk bersaing di era globalisasi.
Tingkat pendidikan sangat berpengaruh pada ibu hamil, dengan tingkat pendidikan yang tinggi ibu hamil akan mengetahui tentang asupan gizi yang baik untuk ibu selama kehamilan (Widagdo,2003).
            1. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang angka kecukupan gizi ibu hamil

Tingkat pengetahuan responden tentang angka kecukupan gizi ibu hamil dengan persentase tertinggi adalah responden dengan tingkat pengetahuan cukup (55,3%) dan jumlah responden dengan persentase terendah adalah responden dengan tingkat pengetahuan tidak baik (5,2%).
Menurut Karyadi (2001) angka kecukupan gizi adalah jumlah asupan gizi yang dianjurkan bagi ibu hamil. Angka kecukupan gizi untuk kebutuhan kalori atau karbohidrat aalah 2800 Kalori, angka kebutuhan protein adalah 50 gram, kalsium 1,1 mg, zat besi 30 mg, vitamin A 4000 SI, vitamin B1 1,0 mg, vitamin B2 1,5 mg, vitamin B6 1,5 mg dan angka kebutuhan vitamin C sebesar 40 mg.
Hasil penelitian ini tentang angka kecukupan gizi ibu hamil dikategorikan cukup, karena ibu kurang mendapat informasi yang jelas tentang angka kecukupan gizi ibu hamil. Informasi yang didapat ibu seringkali tentang jenis dan jumlah gizi seimbang yang harus dikonsumsi ibu tanpa mencantumkan angka kecukupan gizi ibu hamil. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003 yang menyatakan bahwa sumber informasi yang baik akan memberikan pengaruh terhadap pengetahuan individu.
            1. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil

Hasil analisis univariat tingkat pengetahuan responden tentang faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil dengan persentase tertinggi adalah responden dengan tingkat pengetahuan kurang (40,8%) dan tidak ada responden yang mempunyai tingkat pengetahuan cukup (0,0%).
Menurut Astrini (2001), banyak faktor yang mempengaruhi status gizi pada ibu hamil, antara lain adalah faktor sosial budaya, sosial ekonomi, pengetahuan ibu hamil dan penyakit pada ibu hamil. Tingginya prosentase responden dengan tingkat pengetahuan kurang baik dapat disebabkan ibu kurang mendapat penjelasan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil. Dalam konseling tentang gizi seimbang pada kehamilan, seringkali bidan tidak menjelasakan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil, tetapi lebih menekankan tentang jenis dan cara pemenuhan gizi seimbang pada kehamilan.
            1. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang gizi seimbang pada kehamilan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang tentang gizi seimbang pada kehamilan (55,3%) dan sebagian kecil memiliki tingkat pengetahuan tidak baik (5,2%).
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Christianingrum (2005) yang menyatakan bahwa sampai saat ini di Indonesia masih banyak ibu hamil yang mempunyai pendapat yang salah tentang jumlah asupan gizi yang harus diperoleh, misalnya pendapat yang menyatakan bahwa ibu hamil tidak boleh terlalu banyak mengkonsumsi makanan karena dapat membuat janin terlalu besar sehingga menyulitkan proses persalinan. Fenomena yang menunjukkan bahwa banyak ibu hamil yang mempunyai pendapat yang salah tersebut menunjukkan bahwa ibu hamil belum memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang gizi seimbang pada kehamilan.
Rendahnya jumlah ibu hamil yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang gizi seimbang dalam kehamilan dapat mengakibatkan ibu tidak memenuhi asupan gizi yang baik selama kehamilan. Hal ini dapat menimbulkan masalah, baik penyulit maupun komplikasi dalam kehamilan, misalnya KEK. Sebagaimana dijelaskan bahwa sampai saat ini masih banyak ibu hamil yang mengalami masalah gizi khususnya gizi kurang seperti KEK dan anemia gizi. Jumlah penderita KEK di Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Menurut data Susenas tahun 1999, jumlah ibu hamil yang mengalami risiko KEK adalah 27,6 % (Depkes, 2000). Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2002 menunjukkan bahwa 41 % ibu hamil di Indonesia menderita KEK (Lubis, 2003). Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas tahun 2009 memperlihatkan jumlah ibu hamil yang mengalami KEK sebanyak 4.467 ibu hamil atau 14,5 % dari 30.701 ibu hamil.

BAB V
PENUTUP

          1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat disusun beberapa kesimpulan, yaitu :
  1. Tingkat pengetahuan responden tentang pengertian gizi seimbang pada kehamilan dengan persentase tertinggi adalah responden dengan tingkat pengetahuan baik (60,5%) dan jumlah responden dengan persentase terendah adalah responden dengan tingkat pengetahuan kurang baik (6,6%).
  2. Tingkat pengetahuan responden tentang kebutuhan gizi ibu hamil dengan persentase tertinggi adalah responden dengan tingkat pengetahuan cukup (56,6%) dan jumlah responden dengan persentase terendah adalah responden dengan tingkat pengetahuan tidak baik (6,6%).
  3. Tingkat pengetahuan responden tentang angka kecukupan gizi ibu hamil dengan persentase tertinggi adalah responden dengan tingkat pengetahuan cukup (55,3%) dan jumlah responden dengan persentase terendah adalah responden dengan tingkat pengetahuan tidak baik (5,2%).
  4. T
    46
    ingkat pengetahuan responden tentang faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil dengan persentase tertinggi adalah responden dengan tingkat pengetahuan kurang (40,8%) dan tidak ada responden yang mempunyai tingkat pengetahuan cukup (0,0%).
  5. Tingkat pengetahuan responden tentang gizi seimbang pada kehamilan dengan persentase tertinggi adalah responden dengan tingkat pengetahuan cukup (55,3%) dan jumlah responden dengan persentase terendah adalah responden dengan tingkat pengetahuan tidak baik (5,2%).

          1. Saran
            1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan peneliti selanjutnya dapat mengembangkan hasil penelitian ini misalnya dengan meneliti hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi seimbang pada kehamilan dengan perilaku ibu dalam pemenuhan gizi seimbang pada kehamilan.
            1. Bagi Bidan Setempat
Meskipun tingkat pengetahuan sebagian besar responden tentang gizi seimbang pada kehamilan dalam kategori baik, tetapi bidan diharapkan memberikan konseling kepada ibu tentang gizi seimbang pada kehamilan pada saat ANC, supaya ibu hamil dapat mempraktekkan pemenuhan gizi seimbang pada kehamilan, sehingga ibu tidak mengalami masalah gizi selama kehamilan.


            1. Bagi Institusi Pendidikan
Institusi pendidikan diharapkan dapat mendorong mahasiswanya untuk mengaplikasikan hasil perkuliahan secara langsung kepada masyarakat, misalnya memfasilitasi kegiatan penyuluhan kesehatan kepada ibu hamil tentang gizi seimbang selama masa kehamilan.
            1. Bagi Ibu Hamil
Diharapkan ibu hamil lebih meningkatkan pengetahuannya tentang gizi seimbang pada kehamilan, sehingga dapat mengurangi mempaktekkan pemenuhan gizi seimbang, sehingga ibu dapat meminimalkan risiko kehamilan dan persalinan yang disebabkan oleh kurangnya pemenuhan gizi selama kehamilan, misalnya ibu mengalami KEK.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar